Cerpen Takdir Karya Ahmad burhanuddin


 
                        Takdir 
                                                                      Ahmad burhanuddin
Sani, nama seorang anak yang dianugerahi keberuntungan yang luar biasa berkat kerja kerasnya yang tak pernah luntur. Nama lengkapnya adalah Abdullah Sani. Nama kecil yang berisi pengharapan besar bagi kedua orang tuanya. Nama bapaknya adalah pak Jamaludin, seorang perantauan dari Padang panjang yang berprofesi sebagai seorang penjual jamu keliling. Dia tidak pernah lagi kembali ke kampung halamannya di Padang setelah memperistri mak Inah, orang Surabaya asli sekaligus ibu Sani yang sekarang sedang koma di rumah sakit karena tertabrak mobil saat hendak ke pasar. Setiap hari pak Jamal bekerja keras tanpa kenal waktu baik itu siang ataupun malam tak pernah ia hiraukan. Demi membiayai istrinya. Rupiah demi rupiah selalu dia kumpulkan. Sani kecil pun yang saat itu berusia 5 tahun membantu bapaknya dengan berjualan gorengan milik tetangganya untuk membantu membeli beras untuk keluarganya. Dia pun mengorbankan masa depannya untuk berhenti sekolah. Tapi berkat itu, dia tumbuh menjadi seorang yang mandiri. Tidak sebanding memnag dengan yang dia korbankan.
Pada suatu siang pak Jamal mendapat rezeki yang lebih dari biasanya, dia berencana membelikan Sani baju baru untuk dipakai. Namun Sani berpikiran lain, anak ini malah menyuruh bapakknya untuk membelikan baju baru baru untuk ibunya. “beli baju buat ibu aja pak, Sani pengen ibu balik pak Mungkin kalau kita belikan baju buat ibuk, pasti ibuk bisa bangun lagi dan bareng kita lagi,” kata anak lugu itu. Bapak yang sedang kebingungan dengan pemikiran anaknya ini akhirnya mengiyakan permintaan anak tercintanya ini. Satu satunya harta berharga yang dia miliknya selain istrinya.
Kesokan harinya mereka berdua pergi ke sebuah pasar modern yang berada di kota. Mereka naik angkutan umum. Sesampainya di sana, Sani langsung berlarian kesana kemari. “Waaaah bagus banget paaaaakk. Ini yang namanya pasar?” kata anak itu kegirangan. Wajar lah selama ini bocah itu hanya berkeliling di  rumah tetangga sekitar untuk menjajakan gorengan. Bapaknya tersenyum saja melihat kelakuan Sani. Di depan pasar memang tidak seberapa ramai hari itu, tapi begitu masuk suasananya sangat berbeda. Sangat penuh dan sesak, bahkan untuk berjalan saja sangat sulit. Namun mereka berdua tetap saja nekat masuk. Digandengnya erat tangan bapaknya karena dia takut kalau sampai kehilangan bapaknya di tempat seperti itu. Apa yang dikhawatirkan Sani ternyata benar terjadi. Dia kehilangan bapaknya karena orang orang yang berlalu lalang dipasar. “Bapaaaakk bapaaaaaaakkk,” dia berteriak sekecang kencangnya. Namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya dia memutuskan menunggu di depan pasar.
Hari menjelang malam, Sani tetap menanti bapaknya. Dia juga tidak bisa pulang karena dia tidak tau arah jalan pulang. Karena tuntutan perutnya yang lapar dan juga dia tidak membawa uang sepeser pun, terpaksa dia pergi ke warung di dekat pasar dengan maksud bekerja untuk mendapatkan sebungkus nasi. “buk bolehkah saya meminta sebungkus nasi untuk saya makan? Saya siap melakukan apapun untuk membantu ibuk.” Kata Sani memelas. Karena ibuk itu iba melihat Sani, dia berkata begini “hmmm baiklah nak, kamu bisa membantu ibu mencuci piring piring itu .” bagi Sani hidup seperti ini sudah biasa dilakukannya. Dia juga tidak punya tempat untuk tidur, terpaksa dia tidur di jalanan.
Keesokan harinya dia telah memutuskan untuk menjadi anak jalanan. Dia mengamen di perempatan tapi tanpa alat musik apapun. Receh demi receh dia kumpulkan untuk bertahan hidup. Lama lama dia terbiasa hidup di jalanan. Namun kenangan akan keluarganya masih tersimpan rapi di hati dan ingatannya. Dia masih mencari ayahnya, tapi apalah daya dia tidak tahu alamat rumahnya sendiri.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang anak jalanan yang senasib dengannya. Hanya bedanya dia sengaja kabur dari rumah. Rido namanya, seorang anak sebayanya berambut keriting dan agak gelap kulitnya. Mereka akhirnya berteman baik karena merasa senasib menjadi anak jalanan. Mereka ngamen bersama, makan sebungkus bersama. Bagi Sani, Rido adalah sahabatnya yang terbaik
.
Tahun tahun berlalu, mereka berdua telah tumbuh remaja. Mereka telah merasakan pahit getir, susah senangnya hidup di jalan. Mulai di palaki preman sampai dipukuli anak jalanan yang lain tapi mereka berhasil melewati itu semua. Mereka mendapat tawaran untuk bergabung dengan organisasi kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu anak anak jalanan yang ingin membuka usaha mandiri berupa pinjaman atau bantuan modal usaha. Setelah beberapa waktu mereka menjadi pengurus organisasi tersebut. Karena sifat jujur mereka yang besar di jalanan, mereka sangat dipercaya oleh  donatur  untuk menitipkan uang bantuan pada mereka.
Ada satu donatur yang sangat tertarik dengan Sani dan Rido. Donatur tersebut bernama Pak Cheng. Beliau adalah seorang pemilik perusahaan konstruksi. Dan juga yang lebih menarik lagi adalah Pak Cheng hendak menyekolahkan mereka berdua serta menampung mereka di perusahaannya jika studi mereka selesai. Bagai kejatuhan bulan, mereka sangat senang. Terutama Sani yang memang sangat ingin sekolah sejak kecil. Dia selalu iri jika melihat anak sebayanya yang memiliki kesempatan untuk bersekolah.
Mereka pun mulai bersekolah. Di sekolah SMA mereka adalah duo maut yang ditakuti teman temannya. Bukan ditakuti karena otot, tapi oleh otak mereka yang encer dan juga keaktifan yang mereka miliki. Kelulusan telah tiba. Mereka mulai masuk jenjang kuliah. Rido berhasil masuk universitas ternama di Indonesia lewat jalur undangan. Sekarang giliran Sani yang belum menemukan universitas untuk dimasuki. Tujuannya adalah satu, universitas di Jerman. Dia berusaha belajar giat segiatnya untuk mencapai impiannya.

Tes pun telah selesai di lakukan. Sekarang adalah hari pengumumannya. Dia takut dan gusar saat hendak melihatnya. Dan ternyata Alhamdulillah disana terdapat nama Abdullah Sani terpampang jelas. Hanya 3 orang yang berhasil lolos seleksi dari puluhan ribu peserta. Hari keberangkatan telah tiba, Sani kini telah berkuliah di Jerman. Dia tetap tidak bisa melupakan keluarganya yang telah dia tinggal.
Empat tahun berlalu, akhirnya Sani telah sampai di negeri asalnya. Negeri yang dicintainya sekaligus yang mengubah dirinya. Di bandara dia disambut oleh Pak Cheng dan Rido dengan senyum semringai dari mereka. Dia mulai bekerja di perusahaan Pak Cheng dan memperoleh sebuah proyek di daerah yang begitu tidak asing baginya. Disaat perjalanan hendak ke arah proyek, tiba tiba terlihat seorang lelaki tua lusuh yang sedang menunggui gerobak reyot tanpa pembeli yang juga tak asing juga baginya. Dia langsung menghentikan mobilnya dan keluar. “Bapak!!??” seru Sani kaget. Lelaki itu tak kalah kagetnya “Siapakah kamu? Apakah kamu Sani??”. “ Iya pak aku Sani pak” langsung memeluk lelaki itu dengan air mata yang tak henti henti terkuras habis. “Ya Allah, Sani kemana saja kamu nak? Bapakmu ini mencarimu kemana mana naaak. Sejak dari pasar sudah hampir mati gara gara kehilangan kamu nak, kamu satu satunya harta yang bapak miliki nak.” Kata laki laki itu. “Iya pak, Alhamdulillah Sani sudah berhasil pak. Ibuk dimana pak?” tanya Sani. Ibumu sudah lama meninggal nak. “Bapak setiap hari ke kuburan ibukkmu cuma mau bilang bahwa anaknya belum ketemu” kata Pak Jamal. Mendengar kata kata bapaknya, Sani sudah tidak bisa berkata kata lagi dan langsung meminta bapakknya untuk mengantarnya ke makam ibuknya. Dua orang itu pun samapai di pusara orang yang paling mereka cintai. Sani tidak sanggup berdiri dan menangis dan meminta maaf. Pak jamal mengelus nisan istrinya sambil bilang “anakmu pulang mah.”
Surabaya, 7 Juni 2017
TAMAT

Komentar