Cerpen Redup Karya Ahmad Burhanudin


Redup
                                                                                                                             Ahmad Burhanudin          
Aku akan mencintaimu...
Sampai kamu mati...
Langit tampak mendung dari pandanganku, meski sebenarnya ini siang terik yang membakar setiap inci kulit. Bangku-bangku di pingir jalan bergoyang bersama angin, menarikan sebuah tarian, tarian kematian. Debu beterbangan di jalan yang lengang. Aku baru sadar benda dingin yang kupegang adalah darahku sendiri. Tubuhku seperti remuk tergeletak di tengah jalan pasar “Kandel”. Pikiranku samar-samar mengingat apa yang telah terjadi.  Ya, aku ingat sekarang...
***
“Kamu mau kemana mas?” tanya Kenis saat aku keluar dari gubuk kardus yang setia ditempati saat panas, namun tidak bersahabat ketika hujan. “Aku mau ke Pasar, Nis” jawabku. Kenis adalah perempuan yang telah kunikahi sebelas tahun yang lalu setelah kubawa kabur dari rumah orangtuanya di Jawa Tengah. Aku sangat mencintainya, tapi orangtuanya tidak merestui kami dengan alasan aku bujang yang tak tau cara mencari uang. Jujur saja itu menyinggung perasaanku. Tapi apa mau dikata, memang itu kenyataannya. Aku pengangguran. 
Malam itu kularikan dia ke salah satu  kota besar di Jawa Timur. Kami berangkat saat fajar belum meninggi. Kutunggu dia di belakang rumah dekat sumur. “Mas, aku takut,” kata Kenis ke padaku begitu kita bertemu. Aku tidak punya uang sama sekali saat itu dan aku bingung harus kubawa kemana Kenis. Aku bujang yang bahkan tidak pernah ke luar kampung sekali pun. Berbeda dengan bujang lain seusiaku yang sudah pergi merantau dan kembali dengan membawa istri dan sepeda motor yang mengkilap. Sampai aku teringat satu-satunya transportasi yang biasa keluar kampung. Itu adalah truk pengangkut sapi milik Haji Samin, orang terkaya di kampung.
Kubawa lari Kenis ke belakang truk diam-diam tanpa diketahui siapa pun, bahkan pemilik truk pun sepertinya tidak tahu. Beruntung sekali, bagian belakang truk tersebut belum terkeunci dan anak buah Haji Samin tidak akan memeriksa lagi apa isi truk itu. jik ada yang tahu aku kabur bersama Kenis, semua akan sia-sia. Aku duduk disana bersama sapi-sapi dan Kenis yang sudah muntah sejak awal perjalanan. “Ayo Nis, turun disini, mumpung belum ketahuan anak buahnya Wak Kaji Samin”, kataku saat sopir dan kernetnya berhenti di sebuah pom kecil. Kenis hanya mengangguk.
Sebelas tahun aku hidup dengan Kenis, sebelas tahun pula aku sampai di pasar ini. Hidup bersama Kenis dan orang-orang yang kotor dan kumal, begitupun Aku. Selama dua minggu ini, Kenis sakit perut yang kadang kambuh dan kadang tidak. Malam itu, Kenis makan sepotong sayap bebek goreng yang kupungut dari tempat sampah dekat pasar. Tanpa mempedulikan sisa gigitan tikus pada sayap bebek tersebut, Kenis makan dengan lahapnya meski hanya sepotong.
Malam itu pula Kenis demam dan melenguh “Maas, perutku sakiiiit”. Aku takut, tapi aku tidak bisa berbuat banyak selain kata sabar yang berulang kali keluar dari mulutku. Ingin aku membawanya ke Klinik di kampung, namun aku tidak punya apapun yang bisa kuberikan pada dokter yang ada disana. Aku keluar gubuk malam itu, berjalan menuju toko dan membeli obat diare. Hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai suami dan sebagai seorang pengais sisa-sisa sampah pasar.
“Aku mau ke Pasar, Nis” jawabku sambil menoleh pada tubuh Kenis yang terbaring lemas. “Jangan keluar hari ini mas,” Kenis menjawab dengan wajah cemas. Aku keluar gubuk dengan diam yang menyelimuti mulutku. Sampai di pasar, seperti biasa tempat pertama yang ku tuju adalah kotak tempat sampah yang besar. Kulihat beberapa tetanggaku juga sudah ada di sana. “Walah pagi-pagi begini sudah mangkal saja hahaha” aku menyapa mereka. “Loh ya iya toh, kalau tidak kesini, mau makan apa?” jawab tetanggaku. Aku mulai mencari sisa sayur, ikan, dan barangkali daging dengan kondisi layak menurutku, yang bisa dimakan hari ini.
Saat aku sedang mengais, aku melihat perempuan gendut membeli sebuah kalung emas yang kilauannya sampai tempat sampah yang berjarak hanya beberapa langkah dari toko perhiasan tempat perempuan gendut itu membeli kalung. Aku langsung teringat ulang tahun Kenis yang telah telah terlewat enam hari. Selama kami menikah, belum memberi satu pun hadiah padanya kecuali satu-satunya kain sarung yang kubawa dari kampung sebagai mas kawin pernikahan kami. Dalam lamunanku, aku tersadar perempuan gendut tadi sudah pergi dari toko dengan membawa sebuah dompet dengan logo “Bokor Mas”. Aku beranjak dari tempat sampah dan mengikuti perempuan gendut itu, berjalan dengan langkah yang agak cepat. Sampai dekat dengan jangkauan tanganku, kutarik dompet perempuan itu dan berlari. Aku tidak sadar apa yang terjadi, tapi kakiku berlari dan tidak ingin berhenti. Kutengok ke belakang, warga sudah banyak dan mengejarku. Aku bingung, apa yang membawaku hingga aku dikejar seperti ini? Apakah karena dompet ini? Kenapa dompet ini ada di tanganku? Aku tidak bisa berpikir lagi dan terus berlari. Kubuang dompet itu sejauh-jauhnya ke samping. Kerumunan itu tidak berhenti dan terus mengejarku. Aku sudah sampai batasku, aku terjatuh dan kerumunan itu semakin dekat... semakin dekat... hanya mataku yang bisa menyaksikan kerumunan itu sudah melingkari tubuhku. Pukulan pertama melayang di mata kiriku, dilanjutkan dengan pukulan kedua di mata kananku, injakan dan tendangan yang lain sampai aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun dengan tubuh layu seperti sayuran pasar yang jatuh terinjak-injak. Kuseret kakiku yang penuh darah perlahan-lahan secara begantian. Pasar sudah sangat lengang. “Sssshh,” aku mendesis setiap kaki ini mendapat giliran melangkah. Perih sekali, tapi harus kutahan hingga aku sampai gubuk, tempat Kenis terbaring. Sebelum ke gubuk, aku ingat membuang dompet berisi kalung itu ke samping. Entah dimana, aku terus mencari-cari dompet tersebut. Penuh harap seolah kerumunan warga tadi tidak menemukan dompet tersebut. Mataku menyala ketika dompet kotor bertulis “Bokor Mas” itu terlihat. Kupungut, dan seketika itu aku muntah darah. Aku berjalan sambil menyeret kakiku ke arah gubuk.
“Nis, aku pulang,”
“Nis?”
“Kenis?”
Tidak ada jawaban. Bibirku benar-benar tercekat. Aku melihat apa yang paling tidak ingin kulihat. Hal yang lebih buruk daripada ribuan mimpi buruk yang selalu menghampiri tidurku setiap malam. Tubuh Kenis yang sudah terbujur kaku tersaji di depan mataku. Aku langsung ambruk ke tanah dan merangkak mengganggam tangan Kenis. “Nis? Jangan tinggalkan aku Nis, ini aku punya hadiah untukmu Nis. Hadiah ulang tahunmu. Hadiah pertamaku untukmu. Ayo Nis bangun Nis,” kugoyang-goyangkan tubuhnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Saat itu kupikir ini hanya mimpi buruk dan ketika bangun, semua akan kembali seperti semula. Apa aku sudah gila? Dia sudah mati, Kenis sudah mati!
Sore itu Kenis meninggalkanku, bersama penyesalan yang tidak akan pernah bisa kutebus. Kukalungkan sebuah kalung yang dari tadi ada digenggamanku di lehernya yang sudah kaku sebagai hadiah perpisahan. Aku diam sejenak, kemudian mengambil sendok yang berada di dekat Kenis dan duduk di sampingnya. Kupegang sendok itu dengan bagian tumpul persegi mengarah ke arah tenggorokanku. Dalam hitungan ketiga, kulihat dunia menjadi redup, langit-langit kardus menjadi redup, mayat kenis menjadi redup, dan sebuah senja yang redup. Gelap.
                                                                                                            Surabaya, 7 Juni 2017

Komentar